Wahai Perempuan yang Senantiasa Menapaki Setiap Imajiku

23.37.00 0 Comments

ilustrasi

aku masih terjaga saat itu, menatap langit-lagit kamar dengan caya lampunya yang terang. kantuk memang sudah mulai menghampiriku, tapi entahlah kenapa kelopak mata ini masih enggan menutup dan segera kutuju alam bawah sadarku. bersamaan dengan denting jarum jam yang mengisi kesunyian ini kembali aku teringat sebuah kenangan yang tak terhitung lagi berapa kali aku memutar dalam bayangku kejadian-kejadian itu dengan begitu rincinya.

kemarau panjang datang dan tanah terlihat begitu tandus, sebenarnya masih bisa kau temukan mata air yang meresap dibawah tanah yang tandus itu bukan? hanya saja ia tak akan terlihat, orang hanya akan menilai sepihak bahwa kemarau panjang berarti sebuah kekeringan.

dan begitulah, perasaanku padamu, wahai perempuan yang senantiasa menapaki setiap imajiku. jika musim penghujan telah berakhir mungkin kau mengira bahwa tak akan kau temukan lagi mata air jernih itu, seperti saat bagaimana derasnya hujan senantiasa datang tak terhingga, dan kau menyambutnya.

kau sambut dengan suka cita setiap rintik hujan yang datang, atau dengan cerita-cerita masa lalumu yang  kau tuturkan dan seakan membawaku masuk jauh di dalam kehidupanmu. kunikmati setiap ceritamu walaupun itu tentang orang yang dulu pernah sangat kau cintai. itu hanya masa lalumu, begitu fikirku.

wahai perempuan yang senantiasa menapaki setiap imajiku, mungkin waktu itu ketika kemarau baru saja datang, seharusnya diatas tanah yang mulai tandus itu kutanami pohon rindang nan teduh, agar kau senantiasa disini berteduh dibawah sanubariku dan tak perlu kau memaki hujan yang tak kunjung datang.

sudah sekian tahun kemarau tak lekas berganti penghujan, dan sisa tetesan-tetesan derasnya air itu masih kusimpan didasar tanah yang tandus ini, mengalir disela-sela kerikil-kerikil kecil yang sesekali berubah menjadi embun pagi yang sejuk, itu ketika aku dengan sedikit keberanianku mencoba menyapa lewat medial sosialmu dan kau meresponya. namun embun pagi hanya sementara, ia akan menguap ketika sang mentari pagi bersinar kembali

wahai perempuan yang senantiasa menapaki setiap imajiku, sesungguhnya kau nyata bagiku, tapi terkadang nyata bukan berarti ada. ada sebagaimana taman bunga yang selalu dihampiri lebah yang mencari madu. ada sebagaimana merpati yang tahu kemana ia harus  pulang, tak pernah tersesat meski ia sudah terbang begitu jauh dari sarangnya.

dan tentang musim kemarau itu, biarlah ia terus kering kerontang dan menjadi tanah tandus, nyatanya pecundang yang tak pernah berani maju berperang layak tersisih, dan semoga engkau menemukan kembali gemericik air hujan di tanah yang kini kau tapaki, yang jauh lebih jernih airnya.

dan ketika kedua mata ini sudah mulai lelah, kubiarkan ia terpejam. lalu engkau mulai menghilang dari imajiku. hanya sementara saja selama mata ini menghilangkan lelahnya.

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard.

0 komentar:

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net